Betapa taklidnya mereka...
Penulis berkata al Ikhwan al Muslimun Anugerah Allah Yang Terzalimi di halaman 68 paragraf 3 dalam bukunya itu:
Sebagian tokoh itu ada yang telah menemui Rabbnya dengan syahid dan sebagian masih menunggu untuk itu.
Sungguh mengerikan apa yang diucapkan oleh penulis ini. Apakah ia mengetahui secara pasti kesyahidan seseorang? Bukankah hal ini adalah sesuatu yang ghaib bagi penulis dan bahkan bagi seluruh manusia? Bukankah hanya Allah ta'ala saja yang mengetahui hal yang ghaib? Mengapa penulis mendahului Allah ta'ala? Bukankah Pemilik Syari'at ini, Allah tabaraka wa ta'ala telah mengharamkannya? Allah ta'ala berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendahului Allah dan Rasul-Nya dan bertakwalah kepada Allah.
[ al Hujurat: 1 ]
Sangatlah cocok pertanyaan di bawah ini ditujukan kepada orang-orang Ikhwanul Muslimin, khususnya penulis, yang telah menetapkan kesyahidan tokoh-tokoh mereka:
Apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang gaib lalu mereka menuliskannya? [ath Thur: 41]
Sikap ta'ashub dan ghuluw penulis terhadap tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin ini rupanya ia warisi dari tokoh-tokoh Ikhwanul Muslimin sendiri. Sepertinya di jama'ah Ikhwanul Muslimin sudah menjadi suatu kewajiban bagi anggotanya untuk berghuluw. Di sini saya hendak memberikan contoh perkataan Syaikh Mushthafa as Siba'i yang bahkan lebih parah kadar keghuluwannya terhadap Syaikh Hasan al Banna, guna membuktikan perkataan saya bahwa di jama'ah Ikhwanul Muslimin sikap ghuluw adalah sesuatu yang "wajar".[1]
فما هو إلا النور المرسل من السماء؛ ليكشف عن أهل الخلود ظلماتهم، ثم يظل في السماء دائماً وأبداً، ولن يختلط بتراب الأرض.
Dia (Syaikh Hasan al Banna) tidak lain adalah cahaya yang dikirim dari langit guna menyingkap kegelapan bagi Ahli Khulud. Kemudian ia diam menaungi di langit selamanya, dan ia tidak akan terkotori debu dunia.[2]
Berkata Shalih Asmawy—salah seorang tokoh Ikhwanul Muslimin—sebagaimana dimuat dalam buku Hasan al Banna bil Aqlami Talamidzatihi wa Mu'ashirihi halaman 60:
رحم الله حسن البنا … وهو لم يمت بل حيٌ عند ربه يرزق.
Saya berkata: Bukankah manusia semulia Rasulullah shalallahu alaihi wa salam saja bersabda:
...وَاللَّهِ مَا أَدْرِي وَأَنَا رَسُولُ اللَّهِ مَا يُفْعَلُ بِي...
Demi Allah, aku tidak tahu apa yang akan diperbuat kepadaku, padahal aku adalah Rasulullah (utusan Allah)...[3]
[1] Sebuah "kewajaran" yang telah menyalahi syari'at Islam, wallahu musta'an.
[2] Hasan al Banna bil Aqlami Talamidzatihi wa Mu'ashirihi oleh Jabir Razaq, (104).
[3] Bukhari (1166).
Label: bantahan, ikhwanul muslimin