al Imam Ibnu Hibban dan Muhammad Hibban
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh,Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat serta salam kepada RAsulullah shalallahu alahi wa salam. Amma ba'du...
Alhamdulillah pada:
Hari: Selasa, 6 Juni 2006Waktu: Pukul 16:45Bertempat: Di Klinik Magoshi, Higashi Hiroshima City, Jepang.
Telah lahir putra kami yang pertama yang kami beri nama MUHAMMAD HIBBAN (mohon dipanggil HIBBAN).
Nama MUHAMMAD HIBBAN ini kami ambilkan dari salah satu ulama hadits dari negeri Busta bermadzhab Syafi'i yang bernama Muhammad bin Hibban al Busty atau yang dikenal dengan nama al Imam Ibnu Hibban.Berikut artikel kecil yang kami buat disela-sela menunggu kehadiran putra kami ini kemarin malam, yang sedikit memberi gambaran tentang al Imam Ibnu Hibban ini:
====================================
al Imam al Hafidz Ibnu Hibban
Nama beliau adalah Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban, kuniyah beliauAbu Hatim al Busti. Beliau bergelar al Hafidz.
Lahir di desa Busta, daerah Afghanistan sekarang.
Beliau adalah salah satu murid dari al Imam Ibnu Khuzaimah (Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, salah seorang ahli hadits di Khurasan.Beliau menuntut ilmu hingga Khurasan, Siria, Mesir, Iraq, dan Semenanjung Arab, yang kemudian beliau kembali ke tempat asal beliau dan kemudian diangkat menjadi Qadhi (Hakim Syariat) di daerah Samarqand.
Biografi beliau termuat dalam Siyar A'lam an Nubala' karya al Hafidz adz Dzahabi (VI/78), dan Thabaqat Syafi'iyah al Kubra (III/131).
Salah satu karya besar beliau adalah Taqasimul Anwa' atau yang dikenal dengan Shahih Ibnu Hibban, yang kemudian disusun kembali oleh Ali bin Balban (w.739H) dan dikenal hingga sekarang dengan nama kitab: al Ihsan fi Taqrib Shahih Ibnu Hibban atau yang terkenal dengan nama: Taqrib Ibnu Balban ala Shahih Ibnu Hibban. Kitab ini berjumlah 18 juz. Kitab ini memuat 2647 buah hadits yang shahih menurut Ibnu Hibban yang tidak termuat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
Beliau juga menulis kitab: Majruhin minal Muhaditsin, yang manuskripnya sekarang disimpan di Perpustakaan Masjid Aya Sophia.
Kemudian karya lainnya adalah: al Majruhin minal Muhaditsin wal Dhuafa' wal Matrukin. Sebuah kitab berjumlah 3 juz yang memuat daftar rawi hadits yang ditinggalkan perkataannya, dan rawi2 yang dhaif serta yang terkena jarh (cela).
Disamping itu, beliau juga memiliki kitab yang bernama ats Tsiqat dalam 9 juz yang memuat daftar rawi-rawi Tsiqah.
Di antara hadits yang diriwayatkan oleh al Imam Ibnu Hibban adalah sebuah haditsyang sangat sering kita dengar ketika Ramadhan, yakni hadits berikut:
Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu 'anhu bahwa beliau menuturkan : "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak delapan raka'at lalu beliau berwitir. Pada malam berikutnya, kamipun berkumpul di masjid sambil berharap beliau akan keluar. Kami terus menantikan beliau disitu hingga datang waktu fajar. Kemudian kami menemui beliau dan bertanya : "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menunggumu tadi malam, dengan harapan engkau akan shalat bersama kami". Beliau menjawab : "Sesungguhnya aku khawatir kalau (akhirnya) shalat itu menjadi wajib atas dirimu".
Hadits ini diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam Mu'jamush Shaghir (108), akan tetapi al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani dalam Fath-hul Bary Syarh Shahih Bukhari, dan dalam at Talkhis; beliau menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan pula oleh al Imam Ibnu Khuzaimah dan al Imam Ibnu Hibban dalam kitab Shahih mereka, dan demikianlah adanya.
al Imam Ibnu Hibban juga adalah salah satu ulama ahli hadits yang membongkar kedhaifan salah satu rawi yang bernama Shalih bin Hassan, yang meriwayatkan hadits tentang keharusan mengusap muka setelah berdoa. Hadits itu adalah seperti berikut:
Jika kamu berdo'a kepada Allah,kemudian angkatlah kedua tanganmu (dengan telapak tangan diatas), dan jangan membaliknya,dan jika sudah selesai (berdo'a) usapkan (telapak tangan) kepada muka.
Hadits ini lemah. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1181, 3866), Ibnu Nashr dalam Qiyaamul-Lail (hal. 137),Ath Thabarani dalam Al-Mu'jam al-Kabir (3/98/1) & Hakim (1/536), dari Shalih ibn Hassan dari Muhammad ibn Ka'b dari Ibnu 'Abbas radiallaahu 'anhu (marfu').
Lemahnya hadits ini ada pada Shalih bin Hassan, Sebagai munkarul hadits, seperti dikatakan Al Bukhari dan Nasa'i, Dia tertolak dalam meriwayatkan hadits; Ibnu Hibban berkata:Dia selalu menggunakan (mendengarkan) penyanyi wanita dan mendengarkan musik, dan dia selalu meriwayatkan riwayat yang kacau yang didasarkan pada perawi yang terpercaya; Ibnu Abi Hatim berkata dalam Kitabul 'Ilal (2/351):Aku bertanya pada ayahku (yaitu Abu Hatim al-Razi) tentang hadits ini, kemudian beliau berkata:'Munkar'.
al Imam Ibnu Hibban melihat salah satu sebab ditolaknya perkataan Shahih bin Hassan adalah karena ia mendengarkan musik.
al Imam Ibnu Hibban adalah salah seorang imam yang berada di garis depan madzhab Syafi'iyah sebagaimana disebutkan dalam Thabaqah Syafi'iyah.
====================================
Demikian pemberitahuan kami, jazakumullah khair.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Andy Abu Thalib al Atsary, Pipit (Ummu Thalib al Atsary) dan Muhammad Hibban
Alhamdulillah pada:
Hari: Selasa, 6 Juni 2006Waktu: Pukul 16:45Bertempat: Di Klinik Magoshi, Higashi Hiroshima City, Jepang.
Telah lahir putra kami yang pertama yang kami beri nama MUHAMMAD HIBBAN (mohon dipanggil HIBBAN).
Nama MUHAMMAD HIBBAN ini kami ambilkan dari salah satu ulama hadits dari negeri Busta bermadzhab Syafi'i yang bernama Muhammad bin Hibban al Busty atau yang dikenal dengan nama al Imam Ibnu Hibban.Berikut artikel kecil yang kami buat disela-sela menunggu kehadiran putra kami ini kemarin malam, yang sedikit memberi gambaran tentang al Imam Ibnu Hibban ini:
====================================
al Imam al Hafidz Ibnu Hibban
Nama beliau adalah Muhammad bin Hibban bin Ahmad bin Hibban, kuniyah beliauAbu Hatim al Busti. Beliau bergelar al Hafidz.
Lahir di desa Busta, daerah Afghanistan sekarang.
Beliau adalah salah satu murid dari al Imam Ibnu Khuzaimah (Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah, salah seorang ahli hadits di Khurasan.Beliau menuntut ilmu hingga Khurasan, Siria, Mesir, Iraq, dan Semenanjung Arab, yang kemudian beliau kembali ke tempat asal beliau dan kemudian diangkat menjadi Qadhi (Hakim Syariat) di daerah Samarqand.
Biografi beliau termuat dalam Siyar A'lam an Nubala' karya al Hafidz adz Dzahabi (VI/78), dan Thabaqat Syafi'iyah al Kubra (III/131).
Salah satu karya besar beliau adalah Taqasimul Anwa' atau yang dikenal dengan Shahih Ibnu Hibban, yang kemudian disusun kembali oleh Ali bin Balban (w.739H) dan dikenal hingga sekarang dengan nama kitab: al Ihsan fi Taqrib Shahih Ibnu Hibban atau yang terkenal dengan nama: Taqrib Ibnu Balban ala Shahih Ibnu Hibban. Kitab ini berjumlah 18 juz. Kitab ini memuat 2647 buah hadits yang shahih menurut Ibnu Hibban yang tidak termuat dalam Shahih Bukhari dan Shahih Muslim.
Beliau juga menulis kitab: Majruhin minal Muhaditsin, yang manuskripnya sekarang disimpan di Perpustakaan Masjid Aya Sophia.
Kemudian karya lainnya adalah: al Majruhin minal Muhaditsin wal Dhuafa' wal Matrukin. Sebuah kitab berjumlah 3 juz yang memuat daftar rawi hadits yang ditinggalkan perkataannya, dan rawi2 yang dhaif serta yang terkena jarh (cela).
Disamping itu, beliau juga memiliki kitab yang bernama ats Tsiqat dalam 9 juz yang memuat daftar rawi-rawi Tsiqah.
Di antara hadits yang diriwayatkan oleh al Imam Ibnu Hibban adalah sebuah haditsyang sangat sering kita dengar ketika Ramadhan, yakni hadits berikut:
Dari Jabir bin Abdullah Radhiallahu 'anhu bahwa beliau menuturkan : "Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami di bulan Ramadhan sebanyak delapan raka'at lalu beliau berwitir. Pada malam berikutnya, kamipun berkumpul di masjid sambil berharap beliau akan keluar. Kami terus menantikan beliau disitu hingga datang waktu fajar. Kemudian kami menemui beliau dan bertanya : "Wahai Rasulullah, sesungguhnya kami menunggumu tadi malam, dengan harapan engkau akan shalat bersama kami". Beliau menjawab : "Sesungguhnya aku khawatir kalau (akhirnya) shalat itu menjadi wajib atas dirimu".
Hadits ini diriwayatkan oleh ath Thabarani dalam Mu'jamush Shaghir (108), akan tetapi al Hafidz Ibnu Hajar al Asqalani dalam Fath-hul Bary Syarh Shahih Bukhari, dan dalam at Talkhis; beliau menyebutkan bahwa hadits ini diriwayatkan pula oleh al Imam Ibnu Khuzaimah dan al Imam Ibnu Hibban dalam kitab Shahih mereka, dan demikianlah adanya.
al Imam Ibnu Hibban juga adalah salah satu ulama ahli hadits yang membongkar kedhaifan salah satu rawi yang bernama Shalih bin Hassan, yang meriwayatkan hadits tentang keharusan mengusap muka setelah berdoa. Hadits itu adalah seperti berikut:
Jika kamu berdo'a kepada Allah,kemudian angkatlah kedua tanganmu (dengan telapak tangan diatas), dan jangan membaliknya,dan jika sudah selesai (berdo'a) usapkan (telapak tangan) kepada muka.
Hadits ini lemah. Diriwayatkan oleh Ibnu Majah (1181, 3866), Ibnu Nashr dalam Qiyaamul-Lail (hal. 137),Ath Thabarani dalam Al-Mu'jam al-Kabir (3/98/1) & Hakim (1/536), dari Shalih ibn Hassan dari Muhammad ibn Ka'b dari Ibnu 'Abbas radiallaahu 'anhu (marfu').
Lemahnya hadits ini ada pada Shalih bin Hassan, Sebagai munkarul hadits, seperti dikatakan Al Bukhari dan Nasa'i, Dia tertolak dalam meriwayatkan hadits; Ibnu Hibban berkata:Dia selalu menggunakan (mendengarkan) penyanyi wanita dan mendengarkan musik, dan dia selalu meriwayatkan riwayat yang kacau yang didasarkan pada perawi yang terpercaya; Ibnu Abi Hatim berkata dalam Kitabul 'Ilal (2/351):Aku bertanya pada ayahku (yaitu Abu Hatim al-Razi) tentang hadits ini, kemudian beliau berkata:'Munkar'.
al Imam Ibnu Hibban melihat salah satu sebab ditolaknya perkataan Shahih bin Hassan adalah karena ia mendengarkan musik.
al Imam Ibnu Hibban adalah salah seorang imam yang berada di garis depan madzhab Syafi'iyah sebagaimana disebutkan dalam Thabaqah Syafi'iyah.
====================================
Demikian pemberitahuan kami, jazakumullah khair.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh
Andy Abu Thalib al Atsary, Pipit (Ummu Thalib al Atsary) dan Muhammad Hibban