Hanyalah Sebuah Catatan ...

"...Sebagaimana judul di atas...blog ini hanyalah berisi catatan-catatan saya dan coretan-coretan atas apa yang saya perhatikan...blog ini bukan dibuat untuk memberi fatwa...tetapi saya tujukan bagi para penuntut ilmu untuk saling membagi catatan-catatan..."

Assalamualaikum...selamat datang di blog ana, Andy Abu Thalib al Atsary...

18/03/06

Mengenal Kitab-Kitab Akidah

Ikhwan sekalian,
Bagi antum sekalian yang berusaha memahami Islam baik ushul maupun furu'nya dengan pemahaman Salaful Ummah, yakni 3 generasi pertama dalam Islam (Shahabat, Tabi'in, dan Tabi'ut Tabiin), maka ada baiknya untuk mengenal risalah-risalah yang telah ditulis oleh para Imam dan Ulama pada masa-masa awal tersebut. Berikut beberapa judul kitab yang muncul di masa-masa itu.

1. "Fiqhul Akbar" karya al Imam Abu Hanifah Nu'man bin Tsabit al Kuffiy (wafat 150H)

2. "al Iman" karya Abu Ubaid al Qasim bin Salam al Baghdady (wafat 224H)

3. "ar Radd ala Jahmiyah" karya Abdullah bin Muhammad bin Abdullah al Ju'fiy, guru dari
al Imam al Bukhari (wafat 228H)

4. "al Iman" karya al Hafidz Abu Bakr Abdullah bin Muhammad Ibnu Abi Syaibah (wafat 235H)

5. "as Sunnah" dan "ar Radd ala Jahmiyah" oleh al Imam Abu Abdullah Ahmad bin Hanbal
asy Syaibaniy (wafat 241H)

6. "Khalaqa Af'alul Ibad wal Radd ala Jahmiyah" oleh al Imam al Hafidz Abu Abdullah
Muhammad bin Ismail al Bukhari (wafat 256H)

7. "as Sunnah" oleh Abu Bakr Ahmad bin Muhammad bin Hani' al Atsram, murid dari Imam
Ahmad bin Hanbal rahimahullah (wafat 273H)

8. "as Sunnah" oleh Abu Daud Sulaiman bin al Asy'atsa al Sijistaniy (wafat 275H)

9. "ar Radd ala Jahmiyah war Radd ala Bisyr al Muraisy" oleh Utsman bin Said ad Darimiy,
murid dari Imam Yahya bin Ma'in (wafat 280H)

10. "as Sunnah" oleh al Hafidz Abu Bakr Ahmad bin Amru bin Dhahak (wafat 287H)

11. "as Sunnah" oleh Abdullah bin Ahmad, putra dari Imam Ahmad bin Hanbal (wafat 290H)

12. "as Sunnah" oleh Abu Bakr Ahmad bin Ali bin Said al Marwazi (wafat 292H)

13. "at Tauhid" oleh al Hafidz Abu Bakr Muhammad bin Ishaq bin Khuzaimah (wafat 311H)

14. "al Ibanah" oleh al Imam Abul Hasan Ali bin Ismail al Asy'ary (wafat 324H)

15. "asy Syari'ah" oleh al Imam al Muhadits Abu Bakr Muhammad bin Al Husain bin
Abdullah al Baghdady al Ajury (wafat 360H)

16. "as Sunnah" oleh al Hafidz Abul Qaasim Sulaiman bin Ahmad bin Ayub al Lukhamiy
ath Thabrani (wafat 360H)

17. "al Ibanah" oleh al Muhadits Abu Abdullah Ubaidullah bin Muhammad bin Hamdan
al Akbary, yang lebih dikenal dengan Ibnu Bathah (wafat 387H)

18. "al Iman" dan "at Tauhid" oleh Abu Abdullah Muhammad bin Ishaq bin Mandah
(wafat 395H)

19. "Syarh Ushul I'tiqaad Ahlus Sunnah wal Jama'ah" oleh Abul Qaasim Habbatullah bin
al Husain al Laalika'i (wafat 418H).

16/03/06

Bayi Bisa Berbicara !?

Ikhwah sekalian, seorang sahabat mengirimkan kepada saya sebuah link artikel yang menurutnya perlu dicek ulang. Artikel itu ternyata adalah sebuah artikel yang dimuat di koran Republika. (http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=239506&kat_id=359) Di bawah ini saya copas kan artikelnya, supaya mudah bagi ikhwah sekalian untuk membacanya.

=================================================

Bayi Usia 24 Hari Bisa Bicara

SAMPANG -- Bayi berusia 24 hari sudah bisa berbicara. Bayi itu adalah Ahmad Khotib, bayi pasangan Haji Safuri (40 tahun) dan Mariyatun (25 tahun), warga Desa Pandiangan, Kecamatan Robatal, Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur.

Bayi itu lahir pada 14 Februari lalu, dan bisa mengucapkan kalimat pada Jumat (10/3) dini hari. ''Sebelumnya dia nangis seperti mengalami kesakitan yang berlebihan dan baru tenang sekitar jam 24.00 WIB. Pada pukul 02.00, ia terbangun dan melafadzkan kalimat Waman adlamu wamantarakahum fi dzulumatil layubsirun dan diulangi sampai tiga kali,'' kata Haji Safuri, Ahad (12/3).

Haji Safuri merasa takut atas kejadian ini. ''Kami hanya takut dan kawatir meniggal,'' kata dia.
Safuri kemudian mengdatangi ulama setempat. Menurut pengasuh Pondok Pesantren Darul Amien, Desa Pandiangan, Kecamatan Robatal, Sampang, KH Abd Malik, kalimat yang diucapkan bayi itu adalah kalimat yang dulu diucapkan Nabi Isa. ''Kalimat itu pengakuan Nabi Isa tentang kebenaran ajaran Islam,'' kata Malik.(ant )

=================================================

Ikhwah sekalian,
Bukan masalah bayi yang berbicara yang hendak saya komentari, karena apabila Allah ta'ala berkehendak atas sesuatu maka tidak ada yang tidak mungkin. Allah ta'ala berfirman:

"Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak (untuk menciptakan) sesuatu, maka (cukuplah) Dia hanya mengatakan kepadanya: "Jadilah". Lalu jadilah ia." (al Baqarah: 117)

Yang ingin saya beri komentar adalah:

1. Kalimat yang diucapkan oleh bayi tersebut

Di dalam artikel tersebut ditulis "...ia terbangun dan melafadzkan kalimat Waman adlamu wamantarakahum fi dzulumatil layubsirun dan diulangi sampai tiga kali..."

Ikhwah sekalian, makna kalimat ini aneh karena apabila sepintas dilihat memang kalimat-kalimat berbahasa Arab yang ada dalam al Qur'an. Akan tetapi, kalimat-kalimat itu hanya sepotong-sepotong. Kata "waman adlamu" artinya "Barangsiapa yang berbuat dzalim". Kemudian kalimat "waman tarakahum fi dzulumatil layubsirun" artinya "Barangsiapa meninggalkan mereka di dalam kegelapan, dan mereka tidak melihat (buta)". Maka apabila kita gabungkan sebagaimana ditulis dalam artikel tersebut, arti kalimat tersebut menjadi "Barangsiapa berbuat dzalim dan barangsiapa meninggalkan mereka dalam kegelapan dan mereka tidak melihat (buta)" (?!). Secara bahasa, kalimat ini masih nggantung. Kalimat "Barangsiapa berbuat dzalim dan barangsiapa meninggalkan mereka dalam kegelapan dan mereka tidak melihat (buta)...." ini membuat saya bertanya-tanya, seharusnya ada lagi kelanjutannya. Dengan kata lain, ADA APA DENGAN ORANG YANG "Barangsiapa berbuat dzalim dan barangsiapa meninggalkan mereka dalam kegelapan dan mereka tidak melihat (buta)...."??????? Tidak jelas!

Kemudian, dalam kalimat "waman tarakahum fi dzulumatil layubsirun " ini saya melihat ada kalimat "tarakahum fii dzulumatil layubsirun". Saya langsung teringat dengan firman Allah ta'ala di surat al Baqarah ayat ke 17:

مَثَلُهُمْ كَمَثَلِ الَّذِي اسْتَوْقَدَ نَارًا فَلَمَّا أَضَاءَتْ مَا حَوْلَهُ ذَهَبَ اللَّهُ بِنُورِهِمْ وَتَرَكَهُمْ فِي ظُلُمَاتٍ لَا يُبْصِرُونَ

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.

Ayat ini ditujukan kepada orang-orang munafik. Mereka dimisalkan oleh Allah ta'ala sebagai orang-orang yang Allah ta'ala hilangkan cahayanya, dan Allah ta'ala membiarkan mereka dalam kegelapan dan mereka tidak melihat. Apabila kita lihat lagi perkataan bayi tadi, "Siapa yang meninggalkan mereka dalam kegelapan dan mereka tidak bisa melihat?" maka apabila yang dimaksud oleh si Bayi adalah ayat ini, maka "Siapa" itu adalah Allah ta'ala yang telah membiarkan orang-orang munafik itu dalam kegelapan. Akan tetapi, ikhwah sekalian, permasalahannya adalah subjek dari kalimat bayi tersebut tidak jelas, dan ia tidak pula menerangkan: Apakah ayat ini yang dimaksudnya? Atau bukan.

2. Perkataan Kyiai yang Menisbahkan Perkataan Bayi itu Sebagai Perkataan Nabi Isa alaihis salam

Dalam artikel itu ditulis "Menurut pengasuh Pondok Pesantren Darul Amien, Desa Pandiangan, Kecamatan Robatal, Sampang, KH Abd Malik, kalimat yang diucapkan bayi itu adalah kalimat yang dulu diucapkan Nabi Isa. ''Kalimat itu pengakuan Nabi Isa tentang kebenaran ajaran Islam,'' kata Malik."

Yang saya ingin komentari adalah perkataan Kyiai ini. Beliau mengatakan bahwa perkataan bayi tersebut adalah kalimat yang dulu diucapkan Nabi Isa alaihis salam. Mungkin yang dimaksudnya adalah kalimat yang diucapkan oleh Nabi Isa alaihis salam ketika dalam buaian Maryam.

Benarkah?

Ikhwah sekalian, kita dapat mengetahui apa yang diucapkan oleh Nabi Isa alaihis salam ketika dalam buaian tidak dapat tidak hanya dengan yang 2 ini, yakni firman Allah ta'ala dan hadits-hadits Rasulullah shalallahu alaihi wa salam. Tidak lain karena Allah ta'ala berfirman:

"Dan sesungguhnya Kami telah mengetahui orang-orang yang terdahulu daripada-mu dan sesungguhnya Kami mengetahui pula orang-orang yang terkemudian (dari padamu)."
(al Hijr: 24)

dan ayat-ayat yang semakna dengannya yang begitu banyak.

Ikhwah sekalian,
kisah berbicaranya Nabi Isa alaihis salam ketika di buaian Maryam "terekam" dalam al Qur'an surat Maryam: 30. Allah ta'ala berfirman:

فَأَشَارَتْ إِلَيْهِ قَالُوا كَيْفَ نُكَلِّمُ مَنْ كَانَ فِي الْمَهْدِ صَبِيًّا (29) قَالَ إِنِّي عَبْدُ اللَّهِ آَتَانِيَ الْكِتَابَ وَجَعَلَنِي نَبِيًّا (30) وَجَعَلَنِي مُبَارَكًا أَيْنَ مَا كُنْتُ ‎وَأَوْصَانِي بِالصَّلَاةِ وَالزَّكَاةِ مَا دُمْتُ حَيًّا (31) وَبَرًّا بِوَالِدَتِي وَلَمْ يَجْعَلْنِي جَبَّارًا شَقِيًّا (32) وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا (33) ذَلِكَ عيسَى ابْنُ مَرْيَمَ قَوْلَ الْحَقِّ الَّذِي فِيهِ يَمْتَرُونَ (34

maka Maryam menunjuk kepada anaknya. Mereka berkata: "Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih dalam ayunan?" (29) Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. (30) dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) salat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup; (31) dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. (32) Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali". (33) Itulah Isa putra Maryam, yang mengatakan perkataan yang benar, yang mereka berbantah-bantahan tentang kebenarannya. (34)

Ikhwah sekalian,
sebagaimana bisa kita baca, bahwasanya yang diucapkan oleh Nabi Isa alaihis salam bukanlah kalimat yang diucapkan oleh bayi yang menjadi pembahasan kita saat ini. Lalu, darimana kyiai itu tahu bahwa kalimat yang diucapkan oleh bayi itu adalah kalimat yang diucapkan oleh Nabi Isa alaihi salam sedangkan al Qur'an tidak memberitahukan hal yang sama? Apakah kyiai ini menyaksikan ketika Nabi Isa alaihis salam berbicara dalam buaian? Ataukah ia henak mengatakan sesuatu yang ghaib yang tidak dikhabarkan oleh al Qur'an? Wallahu musta'an.